Berakar di Lautan, Tumbuh Untuk Generasi Masa Depan

Nusa Tenggara Barat (NTB) masih menghadapi kenyataan pahit. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat persentase penduduk miskin di NTB berada di angka 11,38% (lebih dari 637 ribu jiwa)—lebih tinggi dari rata-rata nasional—dengan tantangan terbesar berada di wilayah pesisir. Masalah utamanya bukan pada ketersediaan sumber daya, melainkan pada ketiadaan rantai nilai (value chain) dan infrastruktur pemrosesan lokal. Hasil laut dan bumi kerap dijual mentah dengan harga rendah, sementara nelayan dan petani terus berada di garis kemiskinan.

Kekayaan alam kawasan Sumbawa dan Dompu sesungguhnya terhitung melimpah:

  • Potensi Radiasi Surya Unggulan: Radiasi matahari harian mencapai 4,8 hingga 5,7 kWh/m2/hari, di atas rata-rata nasional. Ini merupakan salah satu titik iradiasi terbaik di Indonesia dengan durasi penyinaran stabil sepanjang tahun, menjadikannya lokasi ideal untuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Battery Energy Storage System (BESS).

  • Hasil Laut Unggulan: Pesisir selatan NTB—khususnya wilayah Lakey, Dompu, dan sekitarnya— berhadapan langsung dengan Samudera Hindia, menjadikannya koridor utama tangkapan ikan pelagis besar seperti Tuna, Cakalang, dan Tongkol, serta kawasan kaya populasi Kerapu, Udang, Lobster, dan Benih Bening Lobster (BBL) yang menempatkan NTB sebagai potensi lobster konsumsi #1 di Indonesia. Perairan pesisir NTB juga menyumbang sekitar 10% dari total pasokan rumput laut nasional (Top 3–4 Indonesia) serta menjadi sentra budidaya Mutiara Laut Selatan (South Sea Pearl / Pinctada maxima) bernilai ekspor USD 18–25 Juta per tahun (#1 di Indonesia).

  • Hasil Bumi Unggulan: Pulau Sumbawa dan Dompu menguasai 28% hingga 30% dari total kebutuhan jambu mete nasional (Top 3 Indonesia). Selain mete, wilayah ini menyumbang lebih dari 200 juta butir kelapa segar per tahun (menopang posisi Indonesia sebagai #1 di dunia), menjadi Top 5 penghasil Vanili (Vanilla planifolia) dengan hasil 35–45 ton polong kering kelas ekspor (gourmet grade) yang menopang posisi Indonesia sebagai #2 di dunia), menyumbang 45– 60 ton Sarang Burung Walet bersih per tahun bernilai Rp 450–600 Miliar (menopang posisi Indonesia sebagai #1 di dunia), serta Madu Hutan Sumbawa (#1 Indonesia) yang diproduksi 120.000–150.000 liter per tahun dan telah mengantongi sertifikasi legal Indikasi Geografis (IG).

Berpijak dari realitas tersebut, PT. Terbit Dari Tenggara (Tenggara Group) didirikan sebagai pengembang kawasan terpadu dan holding investasi berbasis keberlanjutan. Komitmen komersial Tenggara Group diwujudkan melalui penguasaan dan kesiapan aset lahan seluas 30 hektar di kawasan strategis Lakey, Dompu, Pulau Sumbawa. Di kawasan yang dikenal dunia internasional melalui potensi ombaknya ini, Tenggara berperan sebagai motor penggerak bisnis dan pengembang infrastruktur terpadu yang mengintegrasikan potensi bahan mentah bernilai tinggi dengan energi bersih dan teknologi pemrosesan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas antara 200% hingga 450%.

Sinergi Dua Entitas: Tenggara Group & ESOK

Untuk memastikan pertumbuhan bisnis berjalan seimbang dengan nilai sosial dan lingkungan (ESG- compliant), Tenggara Group berjalan berdampingan dengan mitra nirlabanya, Brighter Tomorrow Foundation (ESOK):

  • Brighter Tomorrow Foundation (ESOK): Berfokus murni pada program nirlaba dan kemanusiaan: pembangunan SDM, pendidikan anak usia dini, pembinaan atlet selancar muda, kesehatan masyarakat pesisir, konservasi lingkungan, serta mempersiapkan Dana Abadi (Endowment Fund) jangka panjang guna menjamin kemandirian dan ketahanan generasi masa depan.

  • PT. Terbit Dari Tenggara (Tenggara Group): Berfokus pada pengelolaan investasi komersial, pengembangan kawasan eco-hospitality, media kreatif, infrastruktur energi hijau, logistik rantai dingin (cold storage), serta rantai pasok komoditas lokal—dengan komitmen kuat bahwa sebagian besar hasil dan aktivitas komersial Tenggara Group diprioritaskan untuk dikembalikan dan diputar kembali demi kesejahteraan masyarakat pesisir Lombok dan Sumbawa.